Hijrah adalah perjalanan spiritual seseorang untuk meninggalkan keburukan dan maksiat, lalu bertaubat dan berjalan di jalan Allah Ta’ala. Namun, di sisi lain, ada fenomena comeback, di mana seseorang yang sebelumnya sudah mengenal Allah dan menjauh dari kemaksiatan, justru kembali ke kebiasaan buruknya di masa lalu. Hal ini menjadi peringatan penting bagi kita semua agar senantiasa menjaga keistiqamahan dalam iman dan amal.
![]() |
| Tangkapan Layar Kajian Ust. Rifky Ja'far Thalib Melalui Youtube Channel Sayap Dakwah Membahas Hijrah vs Comeback ----- |
Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan sebuah doa yang sangat relevan dengan situasi ini:
"Ya muqallibal qulub, tsabbit qalbi ‘ala dinika"
(Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu).
Doa ini mengingatkan kita bahwa hati manusia sangatlah rentan berubah. Karenanya, memohon kepada Allah agar senantiasa diberi keteguhan iman adalah langkah utama dalam menjaga hijrah.
Ketika kita melihat seseorang yang mengalami comeback atau kembali ke jalan kemaksiatan, sebaiknya kita tidak langsung berprasangka buruk atau merisaukan keadaan mereka secara berlebihan. Sebab, kita sendiri tidak kebal dari kemungkinan tersebut. Bahkan, seseorang yang saat ini tampak istiqamah pun bisa tergelincir jika Allah tidak menjaganya. Maka, menjaga hati dan amal hingga akhir hayat menjadi tugas setiap Muslim.
Rasulullah juga mengingatkan bahwa amal seseorang dinilai berdasarkan bagaimana akhirnya. Artinya, perjalanan hidup seseorang tidak selalu linear. Oleh karena itu, penting untuk tidak mudah menghakimi orang lain, terlebih bagi mereka yang sedang berjuang kembali ke jalan kebenaran.
Kita juga perlu memahami bahwa comeback ke jalan kemaksiatan bukan berarti mereka tidak berjuang. Justru, mungkin ada tantangan besar yang mereka hadapi, dan salah satu penyebabnya bisa jadi adalah kurangnya perhatian atau dukungan dari kita sebagai sesama Muslim. Maka, alih-alih menilai mereka, kita seharusnya introspeksi: sudahkah kita membantu mereka untuk tetap teguh di jalan Allah?
Menolong seseorang yang terjatuh dalam kemaksiatan bukanlah tugas yang ringan, tetapi sangat mulia. Rasulullah mengajarkan agar kita tidak menjadi alat bagi setan dalam menyesatkan manusia. Menolong setan berarti membiarkan mereka tenggelam dalam dosa tanpa ada usaha untuk menguatkan atau membimbing mereka kembali ke jalan yang benar.
Sebaliknya, tugas kita adalah menjadi penguat dan pembimbing. Mereka yang kembali ke jalan maksiat membutuhkan doa, perhatian, dan dukungan. Jangan biarkan mereka merasa sendirian dalam perjuangannya. Kita bisa menjadi perantara yang membawa mereka kembali kepada Allah, dengan cara-cara yang lembut dan penuh hikmah.
Fenomena comeback juga menjadi pengingat bagi diri sendiri. Jika mereka bisa tergelincir, maka tidak ada jaminan bahwa kita akan selalu istiqamah. Maka, menjaga diri untuk tetap berada di jalan yang lurus adalah kewajiban yang harus kita jalani setiap saat, sambil terus memohon perlindungan kepada Allah.
Sebagai poin dari apa yang telah tersampaikan, dalam pungkasan paragraf melalui kata dan kalimat terangkai, antara hijrah dan comeback adalah perjalanan yang penuh dinamika. Jangan pernah berhenti berusaha menjadi pribadi yang lebih baik, sekaligus membantu orang lain dalam perjuangan mereka. Sebab, tujuan akhir kita adalah tetap berada di atas jalan-Nya, menetapi jalan-Nya yang lurus hingga ajal menjemput.
-----
Artikel : Awan Radio | YD2BVJ diselesaikan pada waktu dhuha dihari Minggu, 15 Desember 2024 diutara makam Tosari, Jl. A Yani, Wonosobo Barat, Wonosobo, tersarikan dari Kajian Ustadz Rifky Ja'far Thalib via Youtube Channel Sayap Dakwah.

Posting Komentar
Gunakan format [video]youtube-or-vimeo-video-link[/video] jika ingin berkomentar disertai youtube video.
Atau silakan gunakan format [img]image-link[/img] jika ingin berkomentar disertai gambar.